TERNATE, – Praktik bullying atau perundungan di lingkungan sekolah masih menjadi ancaman serius bagi tumbuh kembang peserta didik. Meski berbagai upaya pencegahan terus dilakukan, tindakan yang merendahkan, menyakiti, hingga mengintimidasi sesama siswa masih kerap ditemukan, baik secara langsung maupun melalui media sosial.
Kepala SMP Negeri 2 Kota Ternate, Nurhayati Pandawa, S.Pd., M.Pd., menegaskan bahwa bullying merupakan perilaku yang tidak menyenangkan, baik dalam bentuk kekerasan verbal, sosial, maupun perundungan di dunia maya (cyberbullying). Menurutnya, tindakan tersebut bukan sekadar candaan, tetapi dapat meninggalkan luka psikologis yang serius bagi korban.
“Bullying adalah perilaku yang tidak menyenangkan, baik secara verbal, sosial, maupun melalui dunia maya. Perilaku ini membuat korban merasa tidak nyaman, sakit hati, tertekan, bahkan jika terjadi berulang kali dapat meninggalkan trauma yang mendalam,” ujar Nurhayati.
Ia menjelaskan, korban bullying sering kali memilih memendam perasaannya karena takut atau tidak mampu menceritakan apa yang dialami kepada guru, teman, maupun orang tua. Kondisi tersebut membuat beban psikologis korban semakin berat dan berpotensi memengaruhi perkembangan mental serta prestasi belajarnya.
“Anak-anak yang tertutup biasanya menyimpan sendiri rasa sakit yang mereka alami. Ketika diperlakukan tidak baik oleh lingkungan sekitarnya secara terus-menerus, dampaknya bisa sangat serius terhadap kondisi mental mereka,” Jumat (31/7/2026)
Nurhayati mengakui, kasus perundungan masih menjadi tantangan bagi satuan pendidikan. Karena itu, pihak sekolah terus memperkuat langkah-langkah pencegahan melalui sosialisasi, edukasi, dan kampanye anti-bullying agar seluruh warga sekolah memahami dampak buruk dari tindakan tersebut.
Menurutnya, gerakan melawan bullying tidak boleh berhenti di lingkungan sekolah saja. Kampanye anti-perundungan juga harus melibatkan keluarga, komunitas, hingga lingkungan tempat anak-anak bergaul agar tercipta ruang yang aman dan nyaman bagi mereka.
“Sekolah dan lingkungan tempat anak-anak berkumpul seharusnya menjadi ruang yang aman, nyaman, dan menyenangkan. Jangan sampai justru menjadi tempat tumbuh suburnya praktik bullying yang dapat menghancurkan masa depan anak,” tegasnya.(Red)
Leave a comment