Babacarita.com – Tarif angkutan umum rute Kota Tobelo-Loloda Utara yang belakangan ini mencuat dengan ada kenaikan harga melalui sebuah dokumen Tarif terbaru disorot Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Halmahera Utara.
GMNI menilai, kenaikan tarif tersebut merupakan hasil kesepakatan para sopir angkutan sebagai bentuk penyesuaian terhadap kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) yang terjadi pada 18 April lalu.
Lebih diperparah lagi, rapat yang digelar oleh DPRD bersama sejumlah instansi terkait diketahui belum menghasilkan keputusan strategis yang signifikan.
Kondisi ini pun memantik respons dari Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Halmahera Utara.
Ketua DPC GMNI Halmahera Utara, Erik R. Sibu, mendesak Pemerintah Kabupaten Halmahera Utara, khususnya Dinas Perhubungan, harus segera mengambil langkah cepat dalam menangani polemik kenaikan tarif sepihak yang dinilai sangat memberatkan masyarakat Loloda Utara.
“Pemda Halmahera Utara, khususnya Dinas Perhubungan, harus segera bergerak cepat melakukan peninjauan tarif secara adil dan proporsional. Jangan mengulur-ulur waktu tanpa ada keputusan resmi, karena hal itu hanya akan memperpanjang polemik dan menambah beban masyarakat pengguna jasa angkutan Tobelo–Loloda Utara,” pungkasnya.
Menurut Erik, persoalan ini tidak hanya dilihat dari sisi masyarakat sebagai pengguna jasa, tetapi juga harus mempertimbangkan kondisi para sopir sebagai penyedia layanan transportasi.
Erik bilang, meskipun BBM jenis Pertalite dan Pertamax yang umum digunakan masyarakat kelas menengah ke bawah tidak mengalami kenaikan, namun sebagian kendaraan angkutan umum rute Tobelo–Loloda Utara menggunakan BBM jenis Dexlite yang mengalami lonjakan harga cukup signifikan.
“Harga Dexlite sebelumnya sebesar Rp14.750 per liter, kini menjadi Rp24.150 per liter, atau naik Rp9.400. Hal ini tentu berdampak langsung pada biaya operasional para sopir angkutan, dan menjadi akar persoalan kenaikan tarif,” terangnya.

Leave a comment