Babacarita.com – Sekitar 400 warga Kabupaten Halmahera Barat memadati kawasan Telaga Rano, Desa Sasur, Kecamatan Sahu Timur, Minggu malam (10/5/2026), dalam kegiatan nonton bareng film dokumenter *Pesta Babi* yang dirangkaikan dengan diskusi publik bertajuk *“Barang Panas di Telaga Rano”*.
Kegiatan itu menjadi panggung konsolidasi masyarakat adat Wayoli dan Sahu dalam menegaskan penolakan terhadap rencana pengembangan panas bumi oleh PT Ormat Geothermal Indonesia di kawasan hutan adat Telaga Rano.
Peserta yang hadir berasal dari berbagai unsur, mulai dari masyarakat adat, pemuda, mahasiswa, aktivis lingkungan, jurnalis, sosiolog, komunitas pecinta kopi D’pata, hingga warga desa sekitar kawasan danau.
Koordinator kegiatan, Tiklas Pileser Babua, menegaskan agenda tersebut bukan sekadar pemutaran film, melainkan ruang pendidikan politik dan penguatan gerakan warga untuk mempertahankan ruang hidup masyarakat adat.

“Lewat diskusi dan nobar ini kami berharap masyarakat adat tetap menanamkan konsistensi perlawanan terhadap PT Ormat Geothermal Indonesia. Ini bukan hanya soal proyek, tetapi soal ruang hidup masyarakat adat,” kata Tiklas kepada Babacarita.com, Senin (11/5/2026).
Film dokumenter karya jurnalis Dandhy Laksono itu mengangkat konflik perebutan tanah adat dan kawasan hutan di Papua Selatan. Tiklas menilai situasi tersebut memiliki kemiripan dengan kondisi yang kini dihadapi masyarakat adat Wayoli dan Sahu di Halmahera Barat.
Menurut dia, pola perlawanan masyarakat adat di Papua melalui simbol budaya, leluhur, dan perlindungan wilayah adat menjadi cermin perjuangan warga Telaga Rano menghadapi ancaman eksploitasi panas bumi.
“Di Papua Selatan digambarkan bagaimana perlawanan masyarakat adat melalui simbol sasi salib dan unsur leluhur. Itu memiliki kemiripan dengan garis perjuangan masyarakat adat di wilayah Suku Wayoli dan Sahu,” ujarnya.
Penolakan terhadap proyek geothermal di Telaga Rano selama ini terus menguat. Warga khawatir aktivitas eksploitasi panas bumi akan mengancam kawasan hutan adat, sumber air, serta ruang hidup masyarakat yang selama ini bergantung pada ekosistem sekitar danau.
Tokoh perempuan Desa Sasur, Agnes Kuadang, mengatakan film tersebut membuka kesadaran warga bahwa konflik perebutan wilayah adat terjadi di banyak daerah dan berdampak langsung pada kehidupan masyarakat.
“Film ini membuka pikiran kami bahwa banyak daerah adat mengalami persoalan yang sama. Kami jadi lebih memahami pentingnya menjaga tanah dan hutan adat,” katanya.
Sementara itu, pelopor perjuangan masyarakat adat Sasur, Dwi Salatu, menilai forum diskusi seperti itu penting untuk memperkuat solidaritas warga dalam mempertahankan Telaga Rano dari ancaman eksploitasi industri panas bumi.
“Kegiatan seperti ini sangat baik karena masyarakat bisa mendengar langsung pandangan sesama warga dan belajar dari perjuangan masyarakat adat di daerah lain,” ujarnya.
Sepanjang kegiatan berlangsung, ratusan warga tampak bertahan hingga sesi diskusi berakhir. Sejumlah peserta secara terbuka menyampaikan kekhawatiran terhadap dampak proyek geothermal terhadap keberlanjutan hutan adat dan sumber mata air di kawasan Telaga Rano.(Red)

Leave a comment