“Kami terbuka terhadap kritik, tetapi kritik harus berdasarkan fakta, bukan asumsi ataupun informasi sepihak”dr Elisabeth Bernadette
Babacarita.com- Isu dugaan penelantaran pasien oleh RS Pratama Bisui akhirnya dibantah tegas pihak rumah sakit. Direktur Rumah Sakit Pratama Bisui, dr. Elisabeth Bernadette, menegaskan bahwa informasi yang menyebut pasien ditolak ataupun dilontarkan dari rumah sakit adalah kabar tidak benar dan tidak sesuai fakta medis di lapangan.
“Kami tegaskan, tidak pernah ada tindakan melontarkan ataupun menelantarkan pasien seperti yang diberitakan. Informasi itu keliru dan sangat menyesatkan,” tegas dr. Elisabeth saat dikonfirmasi.Minggu (24/5/2026)
Pihak rumah sakit kemudian membeberkan kronologi penanganan pasien atas nama Rudin Kairatu alias Rudi yang sebelumnya disebut-sebut menjadi korban penolakan pelayanan.
Berdasarkan keterangan pihak RS, pasien datang ke Instalasi Gawat Darurat (IGD) RS Pratama Bisui pada 7 Mei 2026 sekitar pukul 03.00 dini hari bersama dua orang pendamping. Saat tiba di IGD, kondisi pasien disebut masih sadar penuh, tidak lemas, tidak semaput, tidak kritis, dan tidak mengalami muntah darah.
Petugas jaga malam langsung melakukan pemeriksaan awal dan menanyakan keluhan pasien. Saat itu pasien mengaku mengalami batuk berkepanjangan lebih dari satu bulan, namun tanpa keluhan demam, sesak napas, maupun kondisi tubuh melemah.
“Pasien langsung diperiksa oleh staf jaga. Semua tanda vital dalam kondisi baik dan normal,” jelas dr. Elisabeth.
Menurut pihak rumah sakit, pasien bahkan diminta berbaring di tempat tidur pemeriksaan, namun memilih tetap duduk di kursi. Setelah dilakukan pemeriksaan lanjutan, petugas kemudian berkonsultasi dengan dokter on call karena pelayanan malam di IGD dilakukan dengan sistem dokter panggilan.
Dari hasil pemeriksaan medis, pasien dikategorikan dalam triase hijau atau kondisi stabil sehingga tidak masuk kategori kegawatdaruratan yang membutuhkan perawatan intensif ataupun rujukan darurat.
Baru setelah pemeriksaan berlangsung, pasien menyampaikan bahwa sebelumnya sempat mengalami batuk bercak darah di rumah. Berdasarkan kondisi klinis saat itu yang dinilai stabil tanpa tanda syok maupun dehidrasi, dokter menganjurkan pasien kembali kontrol pada pagi hari guna pemeriksaan dahak Sputum BTA dan terapi lanjutan.
Namun, pihak RS menyebut pasien tidak kembali melakukan kontrol ke rumah sakit beberapa hari setelahnya.
Di hari yang sama, pasien diketahui mendatangi Puskesmas dan menyampaikan bahwa dirinya ditolak di RS karena tidak ada dokter dan obat. Padahal, menurut klarifikasi RS, dokter telah memberikan arahan medis sesuai hasil pemeriksaan pasien saat berada di IGD.
Ironisnya, saat pasien mendatangi Puskesmas, dokter di fasilitas kesehatan tersebut juga disebut sedang dalam kondisi kurang sehat akibat vertigo sehingga pelayanan dilakukan perawat dengan konsultasi dokter. Pasien kemudian diberikan obat dan dipulangkan tanpa dirujuk ke rumah sakit rujukan.
Pada 11 Mei 2026, pasien kembali kontrol ke Puskesmas. Hingga kini, pasien juga disebut tidak pernah menjalani perawatan di rumah sakit mana pun akibat keluhan muntah darah sebagaimana isu yang berkembang. Pasien hanya menjalani perawatan di rumah.
Pihak RS Pratama Bisui menyayangkan munculnya pemberitaan yang dinilai terburu-buru tanpa konfirmasi menyeluruh kepada pihak rumah sakit. Tuduhan tersebut dinilai mencederai integritas tenaga kesehatan yang selama ini tetap bekerja.
“Kami menjalankan tugas dengan segala penuh hati, melayani masyarakat secara ikhlas. Tidak mungkin pasien dalam kondisi kritis, semaput, atau muntah darah kami abaikan,” tegas dr. Elisabeth.
Ia juga mengingatkan agar semua pihak lebih berhati-hati menyebarkan informasi yang belum terverifikasi karena dapat memicu kepanikan publik dan menggiring opini liar terhadap pelayanan kesehatan.
“Kami terbuka terhadap kritik, tetapi kritik harus berdasarkan fakta, bukan asumsi ataupun informasi sepihak,” pungkasnya.(*)

Leave a comment